Skip to main content

Search Modal

Mitos atau Fakta, Mengemudi di Jalan Beton Lebih Sulit Daripada di Jalan Aspal?

Main Area

Main

Mitos atau Fakta, Mengemudi di Jalan Beton Lebih Sulit Daripada di Jalan Aspal?

Dengan alasan mudah, awet, dan rendah biaya, banyak jalan menggunakan beton atau cor semen. Seperti di jalan tol, perumahan, dalam kota, lingkar luar atau jalan antar kota. Material beton dipilih untuk membangun jalan karena durabilitasnya yang tinggi dibanding jalan aspal.

Secara konstruksi, jalan beton sudah memenuhi syarat supaya dapat dilewati berbagai jenis kendaraan. Tapi patut dicatat, jalan beton memiliki karakter yang berbeda dengan jalan aspal. Pun, pabrikan ban menjadikan permukaan aspal sebagai rujukan utama pengembangan.

Jalan beton memiliki dua jenis garis atau rain groove, yakni lurus dan melintang (cross). Garis air yang membuat telapak ban cepat aus adalah garis cross karena ban seperti diparut oleh permukaan beton. Namun dampaknya tidak terlalu besar, ban hanya sedikit lebih cepat aus jika dibandingkan di permukaan aspal.

Kendala Mengemudi di Jalan Beton

1. Terasa Kurang Nyaman

Banyak pengemudi menganggap bahwa lewat jalan beton kurang nyaman ketimbang jalan aspal. Salah satu alasannya adalah permukaan jalan beton yang tidak semulus aspal membuat goyangan mobil lebih besar. Ditambah, sambungan antar segmen beton membuat mobil berayun saat melewatinya.

2. Relatif Lebih Bising

Jalan beton memiliki tingkat kebisingan yang tinggi saat dilalui kendaraan, khususnya dengan alur melintang. Perbedaannya sangat terasa ketika Anda melewati jalan tol yang permukaannya berpindah dari aspal ke beton dan sebaliknya.

3. Marka Jalan Kurang Terlihat

Material beton yang berwarna lebih terang dari aspal membuat marka jalan sulit terlihat karena kurang kontras. Situasi akan makin sulit waktu harus berkendara di tengah hujan. Alhasil, banyak potensi masalah andai Anda tidak hati-hati.

4. Anggapan Jalan Beton Lebih Panas

Ada pula anggapan jalan beton lebih panas ketimbang jalan aspal. Tapi pada kenyataannya, baik jalan aspal maupun jalan beton sama-sama menyimpan panas di tengah cuaca siang hari yang terik. Artinya, urusan keamanan berkendara merupakan tanggungjawab Anda.

5. Daya Rem Kurang Baik

Ban mobil diciptakan agar dapat melaju dengan baik di jalan dengan permukaan aspal. Sehingga, daya cengkeramnya tetap maksimal, baik saat akselerasi maupun pengereman. Beda dengan permukaan beton yang tidak memiliki ‘gigitan’ sebaik aspal, daya pengereman mobil akan menurun.

Mengemudi Aman dan Nyaman di Jalan Beton

1. Fokus dan Jaga Jarak Aman

Mempertimbangkan kendala di atas, Anda harus lebih fokus dalam melihat marka jalan dan menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan. Gunakan jarak minimal 3 detik dengan kendaraan yang ada di depan untuk mengantisipasi potensi masalah. Jarak ditambah hingga 5-6 detik kalau ternyata hujan turun.

2. Kurangi Kecepatan Saat Hujan Turun

Begitu hujan turun, segera kurangi kecepatan untuk menjaga fokus berkendara dan ban mobil tidak kehilangan daya cengkeram ke jalan. Meskipun bukan aspal, tetap ada potensi aquaplaning kalau mobil melewati genangan air.

3. Terapkan Safety Driving

Meskipun diyakini lebih mengikis permukaan ban, tapi ada anggapan pula bahwa traksi ban di jalan beton tidak sebaik jalan aspal. Untuk amannya, melajulah dengan aman dan hindari pindah lajur seenaknya. Dengan begitu, keamanan berkendara di jalan turut terjaga.

4. Istirahatkan Mobil di Rest Area

Jika mengemudi sendiri, pastikan untuk istirahat minimal 30 menit setelah mengemudi selama 2 jam. Rest area menjadi pilihan yang tepat. Sembari itu, Anda juga dapat mengistirahatkan komponen penting seperti ban dan rem yang bekerja keras di jalan beton.

5. Cek Kondisi Ban Mobil

Pastikan Anda telah melakukan servis berkala. Bengkel resmi Toyota akan mengecek kondisi kendaraan untuk memastikannya siap dibawa bermobilitas, termasuk ban dan rem. Sehingga, apapun jenis jalan yang akan dilalui bukanlah masalah besar.

Latest Article
Back to top