Skip to main content

Search Modal

Mudik Lebaran Jalan Padat, Jangan Lupakan Rumus 3 Detik Untuk Jaga Jarak Aman Supaya Terhindar dari Tabrakan Beruntun

Main Area

Main

Mudik Lebaran Jalan Padat, Jangan Lupakan Rumus 3 Detik Untuk Jaga Jarak Aman Supaya Terhindar dari Tabrakan Beruntun

Tahun ini diprediksi akan ada 143,9 juta orang yang melakukan perjalanan mudik dan libur Lebaran. Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan (Baketras) memperkirakan setidaknya ada 76,24 juta orang memilih mudik pakai mobil atau sekitar 52,98 persen.

 

Tidak heran jika nantinya jalan akan padat oleh kendaraan pemudik. Kebiasaan di perkotaan dibawa yakni berkendara bumper to bumper tanpa mengindahkan situasi di sekitar. Begitu bertemu jalan yang sepi, pengemudi akan memacu mobil sehingga turut lupa menjaga jarak aman.

 

Padahal Anda tetap wajib menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan. Jarak antar kendaraan adalah ruang yang tersedia antara kendaraan satu dengan lainnya. Jarak aman saat berkendara adalah rentang jarak yang harus diperhatikan antara kendaraan Anda dengan lainnya.

 

Jarak aman akan memberikan waktu ketika Anda menghadapi situasi tak terduga, seperti manuver kendaraan di depan atau rem mendadak. Sehingga potensi kecelakaan dapat dihindari demi keamanan semua orang di jalan.

 

Perhitungan Jarak Aman di Jalan

 

Anda wajib menjaga jarak aman di jalan, baik ketika jalan macet ataupun lancar. Sebagai contoh, kecepatan 60 km/jam memiliki jarak aman 60 meter dengan jarak minimal 40 meter. Atau kecepatan 100 km/jam, jarak amannya adalah 100 meter dengan jarak minimal 80 meter.

 

Ada 3 area menjaga jarak aman: aman dengan kendaraan di depan, samping, dan di belakang. Jarak aman dengan kendaraan di depan bertujuan untuk memberi waktu yang cukup agar bisa mengurangi kecepatan dan pengereman.

 

Jarak aman dengan kendaraan di samping, bermanfaat untuk mengantisipasi kemungkinan kendaraan berubah jalur. Contohnya, saat keluar dari persimpangan atau mobil keluar dari parkir. Makanya Anda harus tengok kiri-kanan ketika di persimpangan atau keluar dari slot parkir.

 

Jarak aman dengan kendaraan di belakang berguna untuk menghindar tabrakan dari belakang. Meskipun hal ini merupakan kewajiban utama kendaraan di belakang Anda, namun tidak ada salahnya memperhatikan ke belakang agar terhindar dari potensi masalah.

 

Gunakan Rumus 3 Detik di Jalan

 

Ada rumus yang bisa digunakan sebagai patokan menjaga jarak aman yakni rumus tiga detik. Caranya, temukan patokan yang cukup besar dan tidak bergerak alias statis di sepanjang jalan, bisa tiang listrik, pohon ataupun benda lainnya.

 

Ada alasan mengapa dipakai rumus 3 detik. Perhitungan waktu 1,5 - 2 detik yakni lama waktu persepsi manusia selaku pengendara dalam mengemudikan kendaraannya dan melihat kendaraan lain di depannya pada saat melakukan pengereman mendadak.

 

Durasi 0,5-1 detik berikutnya, Anda melakukan reaksi secara cepat untuk menghentikan kendaraan dengan tenang sesuai jarak aman berkendara agar tidak menabrak kendaraan di depan yang sudah melakukan pengereman mendadak.

 

Ketika mobil di depan melintasi patokan yang Anda tentukan, mulai hitung dalam hati. Dengan angka 1.000 dan 1, 1.000 dan 2, 1.000 dan 3. Pastikan mobil melewati patokan yang sama pada akhir hitungan, jika sudah tepat maka Anda telah memenuhi jarak aman tiga detik.

 

Kesulitan Menerapkan Rumus 3 Detik di Indonesia

 

Ketika Anda menerapkan rumus jaga jarak 3 detik, malah menjadi kelompok minoritas, khususnya di perjalanan mudik yang padat dan semua ingin cepat sampai tujuan. Dan ketika menerapkan di lingkungan mayoritas yang tidak paham dan tidak mau melakukannya, semakin sulit bahkan diremehkan.

 

Ada dua alasan mengapa rumus tiga detik di jalan tol sulit diterapkan. Pertama karena orang Indonesia gemar mendahului dan tidak sabaran. Kedua adalah pengemudi di Indonesia senang membuntuti mobil di depannya.

 

Ketika Anda sedang menjaga jarak dengan mobil di depan, malah dikira memberikan ruang orang lain untuk masuk. Kemudian, saat sudah memberikan jarak aman dengan mobil di depan, mobil di belakang malah menempel di buritan mobil.

 

Meski begitu, Anda tetap harus menjaga jarak aman. Jarak aman akan memberikan waktu ketika menghadapi situasi tak terduga, seperti perubahan arah kendaraan di depan ataupun rem mendadak. Di momen mudik yang padat, rumus ini sangat penting untuk dijalankan.

 

Cara Menjaga Jarak Aman Berkendara

 

1. Gunakan Aturan 3 Detik (3-Second Rule)

Aturan 3 detik berguna untuk mengukur jarak aman kendaraan. Pertama, pilih satu objek berulang yang dilewati kendaraan di depan, kemudian hitung waktu yang dibutuhkan kendaraan Anda untuk mencapai objek itu setelah mobil di depan melewati objek.

 

2. Jaga Jarak di Kondisi Khusus

Pastikan untuk meningkatkan jarak aman sekitar 20% ketika cuaca buruk atau jalan yang licin. Pasalnya, rem akan lebih sulit merespons di permukaan yang licin. Ditambah mobil menjadi lebih sulit dikendalikan yang berbahaya jika diabaikan.

 

3. Kurangi Kecepatan di Kepadatan Lalu Lintas

Cara ini bertujuan agar Anda punya waktu dan ruang yang cukup untuk merespons perubahan dalam alur lalu lintas. Contoh, ketika di depan ada keramaian pasar atau sekolah. Risiko terjadinya masalah terbilang tinggi kalau tidak mengurangi kecepatan.

 

4. Tambah Jarak Aman Saat Hujan

Selain itu, untuk mengantisipasi situasi yang berbahaya, tambah jarak aman hingga 5-6 detik supaya ada cukup ruang untuk bermanuver waktu situasi memburuk. Jarak aman yang bertambah turut memberikan visibilitas yang lebih baik ke lingkungan sekitar mobil.

 

5. Waspada Kendaraan Besar

Sebaiknya menambah jarak aman kalau harus membuntuti truk atau bus besar. Blind spot kendaraan yang tinggi, membuat pengemudinya kesulitan mengecek situasi sekitar mobil. Belum lagi kalau ada masalah seperti tidak kuat menanjak atau mogok.

 

6. Muatan Full Menambah Waktu Respons Kendaraan

Dalam perjalanan mudik hampir dipastikan mobil dipenuhi oleh penumpang dan barang. Akibatnya, mesin harus bekerja keras khususnya saat mendahului atau menanjak. Jarak pengereman juga akan lebih jauh karena bebannya bertambah berat. Pahami respons kendaraan supaya tidak memicu kecelakaan.

 

7. Manfaatkan Fitur Adaptive Cruise Control

Adaptive Cruise Control (ACC) pada New Veloz Hybrid EV merupakan bagian dari teknologi Toyota Safety Sense (TSS). TSS menggunakan kamera lensa tunggal dan radar canggih untuk mencegah kecelakaan, mengurangi korban kecelakaan, dan memberikan assist kepada pengemudi di jalan.

 

Obyektifnya adalah untuk membantu pengemudi agar dapat berkendara dengan aman dan nyaman di segala kondisi jalan, dan pada saat yang sama mengurangi potensi kerusakan mobil serta cidera parah pada penumpang dan pengguna jalan lainnya jika kecelakaan tidak dapat dihindari.

 

Sistemnya akan memberikan alarm peringatan bahaya dalam bentuk grafis atau suara, bahkan mengambil alih kemudi, pedal akselerator, dan pedal rem ketika dideteksi tabrakan sudah tidak dapat dihindari untuk menekan korban jiwa dan kerusakan kendaraan.

Latest Article
Back to top